Tembak Istrinya, Dokter Helmy Terancam Penjara Seumur Hidup

Nusaindo.com, Jakarta Jaksa Penuntut Umum Feli Kasdi mendakwa Terdakwa Ryan Helmi alias dokter Helmy, pembunuh dr. Letty Sultri, dengan pasal berlapis. Pertama soal pembunuhan berencana dan kedua soal tentang kepemilikan senjata api.

“Pertama Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana jo 338 KUHP tentang pembunuhan jo Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api,” kata Feli Kasdi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (29/3/2018).

 

Pasal pembunuhan berencana ini mengancam pelaku kejahatan dengan hukuman penjara seumur hidup atau 20 tahun penjara.

“Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun,” bunyi KUHP.

Usai membacakan dakwaan, Majelis Hakim Puji Harian mempersilakan terdakwa untuk berunding bersama kuasa hukumnya untuk mengajukan eksepsi pekan depan.

“Jadi eksepsi kami jadwalkan pekan depan ya, 5 April 2018,” jelas Hakim Puji sembari mengetok palu penutup sidang.

Insiden pembunuhan berencana ini terjadi karena terdakwa dokter Helmy yang tak lain adalah suami korban naik pitam, usai mengetahui sang istri (dr. Letty) hendak layangkan gugatan cerai.

 

1 dari 2 halaman

Putus Asa

Biduk rumah tangga yang tak akur dan kerap ada kekerasan, membuat korban putus asa memilih jalan berpisah.

Prahara maut ini terjadi pada November 2017 ini, senapan berjenis revolver menjadi saksi bisu saat nyawa dr. Letty melayang ditangan sang suami di sebuah klinik di bilangan Jakarta Timur.

Tembak Istri di Tempat Praktik

Dokter Ryan Helmi membunuh istrinya, dokter Letty Sultri, saat sang istri tengah bekerja di tempat praktiknya di Klinik Azzahra, Cawang, Jakarta Timur. Dokter Letty tewas setelah diberondong senjata api, November 2017.

Aksi dokter Helmi menghabisi nyawa istrinya, dokter Letty, membuat banyak orang geram. Saat prarekonstruksi, Senin (13/11/2017), di Klinik Azzahra, warga yang geram menyoraki dengan sumpah serapah saat Helmi tiba di lokasi. Bahkan, kepalanya kena pukul.

Helmi mengaku tega memberondong peluru ke tubuh istrinya lantaran mendapatkan bisikan gaib. Dia mengaku mendapatkan perintah untuk menghabisi nyawa istrinya.

“(Karena) Diperintah, diperintah,” ujar Helmi di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pelaku dan korban yang telah berumah tangga sekitar lima tahun itu kerap cekcok. Pelaku juga kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Kemudian pada bulan Juli itu korban ajukan cerai. Dan selama dalam proses cerai itu, pelaku tak bisa menghubungi korban. Komunikasi enggak bisa terus,” ujar Argo, Jumat, 10 November 2017.

 

Related posts

Leave a Comment