Menikmati Wisata Petualangan Malam ‘Nyare’ di Manado Tua

Nusaindo.com, Manado – Potensi wisata di Pulau Manado Tua terus mencuat dan terasa menakjubkan. Suasana malam di pantai Manado Tua memunculkan ide untuk sebuah kemasan wisata yang dinamakan ‘nyare’.

Laurens Baculu, pegawai Dinas Pariwisata Manado yang pernah lama bertugas di Kecamatan Bunaken Kepulauan mengatakan ‘nyare’ adalah istilah pada saat air laut di posisi surut terendah. Kemudian, tampak karang-karang di permukaan pantai.

“Selain itu juga tampak apa yang diistilahkan ‘tandusang’ yakni tonjolan karang atau pun yang menonjol di atas permukaan air pada saat surut,” kata Laurens, beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan atraksi wisata ‘nyare’ itu sangat menarik yang dapat dikemas menjadi konsumsi wisatawan.

“Atraksi ini adalah dimulai dari melihat jangkar Portugis pada malam hari. Diketahui pada saat air laut surut jangkar Portugis muncul ke permukaan dan dapat dijadikan objek foto yang menarik. Setelah itu wisatawan dapat menyusuri ‘tandusang’ sambil melihat-lihat ikan-ikan yang terjebak dalam genangan air ikan yang berukuran besar dapat ditangkap dan konsumsi,” ujar Laurens.

Masyarakat setempat menyebut kegiatan ini ‘manengkel’. Aktivitas yang sangat unik sangat mengasyikan karena wisatawan akan melakukan perjalanan menggunakan lampu dan tanpa terasa perjalanan yang ditempuh akan mencapai jarak yang cukup jauh di lingkaran pantai Pulau Manado Tua.

“Pulau Manado Tua memang menyimpan sejuta potensi wisata yang menarik,” dia menandaskan.

Ibadah Paskah di Manado Berjalan Baik

Sementara itu, ratusan ribu pemeluk Kristen di Manado dan Minahasa Utara, merayakan Paskah kebangkitan Yesus Kristus dalam ibadah raya Paskah di seluruh gereja setempat, yang berjalan secara lancar, baik, dan aman.

“Peristiwa Paskah merupakan hal yang membahagiakan bagi kita orang percaya, dan kisah kebangkitan Yesus disaksikan dalam semua Injil,” ujar Ketua Jemaat GMIM Tesalonika CBA Gold Estate Mapanget, Herolina Kaihatu-Kontu, dalam kebaktian, Minggu pagi tadi, dilansir Antara.

Kaihatu-Kontu mengatakan, peristiwa paskah pertama kali disaksikan oleh para perempuan, seperti disaksikan Markus, sebagaimana diutarakan dalam kisahnya di Injil Markus 16:1-11, dan disampaikan kepada murid-murid Yesus.

Perempuan, kata Kaihatu-Kontu, memang lemah dari sisi fisik dibandingkan dengan laki-laki, sehingga mereka bingung bagaimana menggulingkan batu penutup kubur Yesus. Namun, sesuatu terjadi saat sampai di bukit batu tempatnya dimakamkan.

“Para perempuan bertemu dengan malaikat yang digambarkan sebagai orang muda, dan sudah menggulingkan batu tersebut, dan ternyata kubur sudah kosong,” katanya.

Dia menambahkan, memang pada saat disampaikan, murid-murid Yesus ketakutan. Namun, hanya Petrus seorang yang percaya dan mendatangi kubur dan menemukan kubur itu benar-benar sudah kosong.

“Umat Tuhan, Yesus sudah bangkit, menyelamatkan manusia maka bangkitkanlah semangat kita untuk memuliakan Tuhan,” katanya.

Dia mengajak seluruh umat untuk memperbaharui diri dengan kebangkitan Kristus, sehingga menjadi seorang Kristen sejati.

Related posts

Leave a Comment