Industri Film Dewasa Prihatin atas Kematian 5 Bintang Porno

Nusaindo.com, New York – Kematian lima bintang porno, berturut-turut selama tiga bulan lalu, mengejutkan industri perfilman “layar biru”. Oleh sebab itu, sejumlah aktris film dewasa menyerukan dukungan dan rasa hormat mereka terhadap para pemeran wanita dalam film “panas”.

Shyla Stylez adalah bintang porno yang meninggal pada November 2017 tanpa alasan jelas. Kemudian pada Desember, August Ames ditemukan tewas bunuh diri. Beberapa minggu kemudian, tiga aktris lainnya: Yurizan Beltran, Olivia Nova dan Olivia Lua, meninggal dengan dugaan overdosis.

Di balik kesenangan mereka saat menjalani syuting film porno, ternyata ada duka tersembunyi yang dipendam kelima gadis muda tersebut. Di antaranya, kesehatan mental, bebas dari kecanduan narkoba, serta penindasan di dunia maya.

“Kami harus melawan stigma sebagai sebuah kelompok, karena kami semua telah diserang,” kata seorang bintang porno, Tori Black, seperti dikutip dari BBC, Rabu (28/3/2018).

“Apa yang terjadi pada gadis-gadis itu juga bisa terjadi pada kita saat kita lemah,” ia melanjutkan.

Meski stigma negatif selalu menyelimuti perindustrian film porno, para aktris menegaskan bahwa media sosiallah yang membuat mereka tertekan.

Mereka menyebut, media sosial memberi kesempatan pada pemain baru untuk mengembangkan karier. Namun di satu sisi, dunia maya juga bisa memprovokasi para bintang porno dengan memberikan komentar-komentar tak manusiawi. Ini yang menyebabkan mereka depresi.

Black, yang kembali berakting di film porno setelah absen selama tujuh tahun untuk berfokus pada keluarganya, mengaku bahwa meski sebagian besar interaksi di media sosialnya bersifat positif, dia masih menemui sejumlah tanggapan negatif.

“Saya seorang ibu dan bintang porno, dan itu sangat rumit,” ucap Black.

“Saya sering mengunggah foto yang menunjukkan bagian sensitif tubuh saya di Instagram dan seseorang akan berkata ‘Apakah Anda tidak malu? Anda punya anak!'” ujarnya menirukan komentar warganet.

“Kami memilih industri ini karena seks adalah sesuatu yang menggerakkan kita dan sesuai minat kita. Sama seperti seorang pemusik yang menggeluti dunia permusikan,” tandasnya.

 

1 dari 2 halaman

Pendapat Lain…

Pemain profesional lain cenderung berpendapat bahwa mereka terjun ke dalam industri pornografi lantaran ingin lari dari permasalahan pribadi, bukan sebagai profesi. Demikian dikatakan Tasha Reign, Ketua Adult Performer Advocacy Committee.

“Siapa saja yang diberitahu berulang kali bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik, maka mulailah untuk mempercayainya, bahkan jika mereka enggan,” ucapnya.

Reign menyampaikan bahwa perubahan juga harus dilakukan dari dalam industri.

“Kematian mereka menyadarkan kita dan menarik empati dari luar, tetapi ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh industri perfilman dewasa untuk menciptakan tempat yang lebih baik bagi wanita muda.”

Reign dan APAC mencoba menerapkan pelatihan wajib bagi para pemain baru agar mereka mengetahui hak-hak mereka. Selain itu, industri pornografi juga telah memiliki momen #MeToo mereka sendiri.

Related posts

Leave a Comment