HEADLINE: Bandara Kertajati Resmi Beroperasi, Mampu Kurangi Beban Soetta?

Nusaindo.com, Jakarta – Tepat pukul 09.30 WIB, Pesawat Indonesia 1 yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendarat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Ini menjadi penerbangan bersejarah (historical flight) di bandara tersebut, setelah pengerjaannya rampung.

Water Salute, semburan air sebagai tanda selamat datang atas pendaratan perdana pesawat Kepresidenan Republik Indonesia BBJ-2 yang membawa saya pagi ini di Bandar Udara Internasional Kertajati, Majalengka, Jawa Barat.

Demikian Presiden Joko Widodo (Jokowi) menulis dalam akun media sosial Facebook miliknya, untuk menggambarkan kedatangannya saat akan meresmikan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, Kamis (24/5/2018).

Dengan adanya bandara ini, Jokowi yakin akan menjadi titik pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat. Memang, selama ini, warga Jawa Barat hanya bisa dilayani melalui Bandara Husen Sastranegara, Bandung dan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

“Kita harapkan Bandara Kertajati ini bisa memberikan pelayanan kepada seluruh warga Jawa Barat dan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Jokowi di Bandara Kertajati.

Bandara ini menjadi bandara kedua terbesar di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Bandara ini dibangun sejak Desember 2015. Nilai proyek bandara ini mencapai Rp 2,6 triliun.

Bandara Kertajati dibangun di atas lahan seluas 1.800 hektare (ha) dan memiliki landas pacu atau runway berukuran 2.500 x 60 meter dan akan diperpanjang menjadi 3.000 x 60 meter.

Sejak awal direncanakan hingga mulai beroperasinya, Bandara Kertajati dipastikan mampu mengurangi beban di tiga bandara, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Husein Sastranegara.

“Kalau dikatakan bisa kurangi beban bandara yang ada selama ini, itu tepat sekali. Hanya saja ini harus dibarengi pembangunan akses menuju Bandara Kertajati,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) M. Awaluddin saat berbincang dengan Nusaindo.com.

Awaluddin menjelaskan, dari data sepanjang 2017, Bandara Soetta telah melayani 63 juta penumpang, Bandara Halim Perdanakusuma melayani 7 juta penumpang dan Bandara Husein Sastranegara melayani 3,5 juta penumpang.

Belum lagi, potensi penumpang dari beberapa kota seperti Cirebon, Subang, Indramayu dan kota di sekitarnya.

“Kalau semua sudah terkoneksi, sudah menjadi satu antara Jakarta Greather Area dan Jawa Barat, itu mampu kurangi beban total yang bisa ditarik ke sini sekitar 5 juta penumpang per tahun,” tambah Awaluddin.

Dengan kapasitas Bandara Kertajati yang tahap pertama ini sebesar 5,6 juta penumpang per tahunnya, Awaluddin mengaku hal itu sudah lebih dari cukup.

Meski begitu, Bandara Kertajati ini masih memiliki lahan yang cukup luas sehingga masih bisa dikembangkan seiring bertambahnya penumpang. Bandara Kertajati siap melayani penumpang mulai awal Juni 2018. Ke depan, bandara itu memiliki terminal berkapasitas 18 juta penumpang.

Sekjen Indonesia National Air Carriers Association, (INACA) Tengku Burhanuddin mengakui jika keberadaan Bandara Kertajati mampu menjadi alternatif kenaikan penumpang udara yang terjadi setiap tahunnya. Ini dipicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, kata dia, Kertajati akan memiliki pasar sendiri bukan serta merta menjadi lokasi pengganti Bandara Soetta. “Itu satu hal berbeda. Ini kan penerbangan kita, kalau ekonomi baik terus maka penerbangan akan bertambah banyak dan penerbangan di Soetta tetap banyak pula karena ibu kota provinsi dan semua kegiatan semua di Jakarta dan Soekarno Hatta tetap tidak bisa dilawan,” kata dia.

Related posts

Leave a Comment